Desa Sari Agung adalah satu dari 27 desa di Kecamatan Lalan Kabupaten Musi Banyuasin, provinsi
Sumatera Selatan.
Desa ini
merupakan desa
eks-transmigrasi. Saat masih dalam pembinaan Departemen Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan
pada
tahun
1989,
desa ini
dikenal dengan
nama
UPT
(Unit Permukiman
Transmigrasi) IV P5b. Pada tahun 1993, desa ini ditetapkan menjadi desa definitif dan
berganti nama menjadi Desa Sari Agung.
Meski demikian, warga setempat dan warga desa sekitarnya lebih mengenal desa
ini dengan
sebutan Desa
P5b. Huruf P merujuk pada kanal primer yang mempunyai fungsi
vital
bagi kehidupan sosial ekonomi warga.
Adapun
angka
5 merupakan urutan penomoran kanal primer di desa-desa yang terletak di sepanjang aliran sungai Lalan. Terdapat dua desa di kedua sisi kanal Primer 5. Desa Mulya Jaya
yang dikenal sebagai Desa P5a dan Desa Sari Agung sebagai P5b.
Desa Sari Agung atau yang lebih dikenal sebagai
desa P5b oleh warga setempat
merupakan desa eks-transmigrasi. Desa
ini lahir dan
terbentuk
dari pemukiman penduduk yang merupakan
peserta program transmigrasi tahun
1989.
Saat
itu masih bernama Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) VII karena masih berupa desa
binaan Unit Transmigrasi.
Nama Sari Agung sebagai nama desa
baru yang dibentuk tahun 2006 meneruskan
Perda pembentukan
dua kecamatan
di kabupaten Musi Banyuasin
tahun 2005.
Perda No. 32 Tahun 2005 menetapkan dua kecamatan yaitu Lalan dan
Plakat Tinggi. Salah satu desa di kecamatan Lalan adalah Sari Agung (Pasal 2). Nama
ini
merujuk pada dua kata, yaitu Sari dan Agung, Sari berarti inti, dan Agung berarti
besar atau mulia. Mereka berharap desa ini menjadi inti yang besar dan mulia bagi kelangsungan warga dan generasi penerusnya.
Menurut pengakuan sesepuh warga yang sudah
tinggal di wilayah yang sekarang disebut desa Sari Agung sejak awal, desa ini
masih berupa lahan hutan rawa gambut yang belum diolah. Lahan tersebut kemudian
perlahan dibuka untuk kemudian diubah menjadi pemukiman dan lahan pertanian
warga. Cara pengelolaannya masih dilakukan
secara tradisional berbekal
ilmu pengetahuan yang mereka miliki sejak mereka
masih tinggal di tanah Jawa, tempat asal mereka. Warga menebang batang-batang pohon kayu, menebas semak belukar, lalu membakarnya.
Lahan yang sudah bersih itulah yang kemudian
diolah warga hingga sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar