WELCOME TO

DESA SARI AGUNG KECAMATAN LALAN KABUPATEN MUSI BANYUASIN SUMATERA SELATAN INDONESIA

KULTUR DAN BUDAYA

Etnis, Bahasa, Agama

Sebagai desa eks wilayah program transmigrasi, penduduk Desa Sari Agung bukanlah masyarakat asli Sumatera Selatan, melainkan hampir seluruhnya berasal dari etnis Jawa dan Sunda yang jumlahnya mencapai 90%. Sisanya merupakan etnis melayu Sumatera Selatan, Batak, dan Bugis. Bahasa yang dominan digunakan warga sehari-hari adalah bahasa Jawa. Demikian juga dengan agama yang dianut, yang saat ini dari seluruh populasi merupakan penganut agama Islam. 

Legenda

Penduduk desa Sari Agung umumnya sangat taat dengan ajaran agama yang dianut, sehingga tidak ada warga yang percaya dengan legenda maupun mitos- mitos yang umumnya hanya dianggap sebagai takhayul. Saat tulisan ini dibuat, tidak ditemukan adanya cerita legenda yang berpengaruh dalam kehidupan warga desa Sari Agung, maupun yang berkaitan dengan kearifan lokal yang dijalankan warga. 

Kesenian Tradisional

Kesenian tradisional yang masih dijalankan di desa Sari Agung masih berupa warisan tradisi Jawa dimana sebagian penduduk berasal dari etnis Jawa. Banyak ditemui warga menggelar kesenian di setiap acara pesta pernikahan atau sunatan, yaitu kesenian Jaranan (kuda kepang), reog, dan musik campur sari. Selain itu, warga Desa Sari Agung selalu merayakan peringatan hari-hari besar keagamaan, terutama agama Islam. Perayaan umumnya dilakukan dengan cara menggelar pawai obor keliling desa, seperti yang terlihat dalam peringatan Idul Adha dan peringatan Tahun Baru Hijriah.
Terkait dengan kegiatan pertanian, warga Desa Sari Agung juga memiliki upacara khusus. Upacara Sedekah Bumi yang rutin dilakukan setahun sekali dan upacara Panen Raya yang dilakukan jika mendapat hasil panen baik dan melimpah.
Upacara sedekah bumi digelar warga sebelum dimulainya pengolahan lahan yang akan ditanami. Bertujuan untuk memohon kepada Tuhan agar lahan yang akan digarap bisa memberi hasil yang baik dan dijauhkan dari hama. Upacara ini bisa digelar di tingkat desa, maupun di kelompok-kelompok masyarakat yang lebih kecil (per dusun atau per kelompok tani). Beberapa minggu sebelum digelarnya sedekah bumi, warga akan bermusyawarah membentuk kepanitiaan yang umumnya terdiri dari kalangan masyarakat sendiri dibantu aparat desa. Para panitia inilah yang akan mengkoordinir jalannya upacara termasuk koordinir bidang pendanaan. Biasanya dana dikumpulkan dari iuran masyarakat. Pelaksanaan upacaranya mirip kenduri, yakni doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama atau sesepuh desa. Diakhiri dengan perjamuan makan bersama dengan semua penduduk desa. Uniknya, meski kepanitiaan yang secara teknis menyiapkan hidangan, warga yang hadir biasanya secara sukarela turut membawa makanan tambahan untuk bisa dinikmati bersama seusai upacara.
Upacara Panen Raya adalah wujud ucapan syukur warga pada Tuhan atas panen yang melimpah. Berbeda dengan sedekah bumi yang umumnya rutin dilakukan tiap tahun, panen raya hanya akan dilakukan jika hasil panen melimpah. Upacara dilakukan sesaat sebelum panen (baik tanaman padi maupun jagung) dan biasanya melibatkan tingkat pemerintahan yang lebih tinggi (kecamatan atau dinas pertanian Kabupaten). Mirip dengan sedekah bumi, wujud upacara berupa kenduri yang dimulai dengan doa bersama dan diakhiri dengan makan bersama dengan semua penduduk desa.

Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam

Berdasarkan hasil wawacara dan diskusi bersama masyarakat  desa diketahui dahulu masyarakat masih melakukan sonor untuk pembukaan lahan persawahan. Sonor disebut  sebagai  salah  satu  kearifan  lokal  dalam  pengelolaan  sumber  daya alam karena memang tradisi ini dilakukan secara turun temurun sejak jaman nenek moyang.   Pola   pembukaan   lahan   melalui   sonor   dianggap   paling   efektif   dan ekonomis  serta  dianggap  dapat  lebih  menyuburkan  tanah.  Pada  musim  kemarau panjang,  lahan  rawa  gambut  menyurut  secara  dratis  yang  apabila  semak  belukar dan   rumput   rawanya   dibersihkan/dibakar   menyebabkan   lahan   rawa   gambut tersebut  menjadi  lahan  sawah  yang  siap  tanam  tanpa  memerlukan  penggarapan lebih  lanjut.  Namun  setelah  terjadinya  kebakaran  pada  tahun  2015  dan  adanya aturan   pembukaan   lahan   tanpa   bakar, kebiasaan sonor mulai hilang di Desa Sari Agung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar